tio-tek-hong-1

Tio Tek Hong: Perintis Industri Musik Rekaman Di Indonesia

Di tahun ini, industri musik Indonesia telah menjadi ladang besar untuk perusahaan-perusahaan rekaman maupun para pekerja seni. Karya-karya para musisi tersebut dapat dinikmati dengan sangat mudah. Televisi dan radio kerap memutar karya-karya terbaru dari para musisi lokal maupun internasional, ditambah media cetak yang juga mengulasnya. Musisi yang mempunyai banyak penggemar pasti senang melihat karya mereka digemari, dengan terjualnya cd maupun kaset hingga ribuan copy. Hal ini juga berdampak positif terhadap label rekaman yang mensponsori musisi tersebut. Sebuah label rekaman merupakan hal yang sangat penting untuk calon musisi yang ingin berkarya di industri musik. Berikut ini adalah kisah seorang saudagar Tionghoa yang menjadi pelopor industri musik rekaman di Indonesia, yang kerap terlupakan oleh para penikmat musik.

Tahun 1900an, Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda saat itu kerap menikmati musik beraliran jazz dan klasik. Warga pribumi yang kerap mendengar musik saat itu pun, mempunyai hasrat untuk membuat rekaman piringan hitam terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena mereka harus membeli piringan hitam terlebih dahulu jika ingin mendengarkan musik jenis baru. Tio Tek Hong, salah satu saudagar yang memulai mengguluti dunia musik dengan mendirikan sebuah perusahaan rekaman. Sayang tidak setiap lapisan masyarakat Indonesia saat itu dapat menikmati musik lewat piringan hitam, hanya mereka saja yang berada di kaum urban elit. Alat pemutar rekaman yakni phonograph dan gramophone yang terbilang sangat mahal itu lah juga yang membuat lingkup pasar yang terbatas.

tio-tek-hong-2
Tio Tek Hong adalah pria Tionghoa peranakan, yang telah hidup menghirup udara Batavia sejak tahun 7 Januari 1877. Pria yang juga lahir di Passer Baroe (sekarang Pasar Baru) ini adalah saudagar yang mempunyai beragam toko kelontong di pusat pasar Jakarta saat itu. Masa kecil saudagar ini juga tidak jauh berbeda dengan masa kecil anak pribumi saat itu. Bermain di pinggir kali Pasar Baru, mengadu gundu, bahkan hingga gambaran bahwa ia ingin berenang dari sungai kesayangannya itu sampai ke Gunung Sahari. Selain Tio Tek Hong akhirnya mendirikan Tio Tek Hong Record, pria Tionghoa peranakan ini juga pernah menulis karya kisah kenangan yang berjudul, Kenang-Kenangan : Riwajat-Hidup Saja dan Keadaan Hidup di Djakarta dari tahun 1882.

tio-tek-hong-buku 

Ada keunikan sendiri dari Tio Tek Hong Record ini, yakni setiap awal track pertama pada piringan hitam produksinya dapat terdengar suara rekaman dengan bunyi “Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”. Penyayi dan kelompok-kelompok musik yang direkam oleh label rekaman ini sangat beragam, sebut saja musik keroncong, musik kasidah, dan tentu saja Tio Tek Hong Record merekam sandiwara Njai Dasima yang berisikan 5 piringan hitam sekaligus. Tetapi pada faktanya pembelian piringan hitam yang sangat terbatas, disertai alat putarnya yakni gramphone terbilang sangat mahal maka hanya golongan kelas atas saja yang dapat menikmati produksi Tio Tek Hong Record ini. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat dapat menikmati lagu-lagu di pagelaran panggung-panggung hiburan.

tio-tek-hong-1

Kini karya-karya musisi favorit dapat dinikmati secara mudah oleh setiap lapisan masyarakat Indonesia. Melalui kisah Tio Tek Hong, ia seperti meminjamkan matanya untuk generasi di masa kini maupun mendatang, untuk sejenak melihat kehidupan Jakarta di era 1900an, bukan hanya industri rekaman saja melainkan kehidupan warga Tionghoa peranakan menjalani hidup di kota besar, Jakarta. (RS)

Oleh: Ruth Stephanie @nteph0909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *