odeon-records

ODEON Records Dalam Sejarah Musik Indonesia

Mendirikan sebuah label rekaman yang menghasilkan musisi yang berkualitas dan dapat menarik perhatian masyarakat luas bukan lah sebuah perkara yang mudah. Di era ini, telah banyak label rekaman yang memperkenalkan para musisinya, yang diharapkan pasti akan sukses di pasaran baik lokal maupun internasional. Hal-hal tersebut telah umum terjadi di industri musik di era 1900an. Label rekaman yang ada pada saat itu memang tidak sebanyak label rekaman saat ini. Genre musik yang ditampilkan pun tidak seramai genre saat ini. Masuknya label rekaman seperti Beka Records (sila membaca artikel sebelumnya mengenai Beka Records) dan Odeon Records di tahun 1900an merupakan bukti sejarah industri rekaman di Indonesia.

odeon-records

Denny Sakrie, seorang pengamat musik, menulis dalam bukunya yang berjudul 100 Tahun Musik Indonesia bahwa setelah hadirnya label Beka Records di tahun 1905, lalu muncul Odeon Records di tahun 1907. Kehadiran Odeon ternyata juga dapat mendominasi kekayaan musik Indonesia saat itu. Sama halnya dengan Beka Records yang berasal dari Jerman, pun dengan Odeon Records. Bahkan Beka dan Odeon Records pernah berada dalam satu bagian dengan Carl Lindstrom Company di tahun 1904. Dalam catatan pengamat musik tersebut Odeon Records berada di urutan pertama sebagai label yang paling banyak merilis singles yaitu sebanyak 2614 singles.

Odeon Records tidak sendiri menjadi label rekaman yang ada di Tanah Air. Selain ada Beka Records, masih ada label-label rekaman lainnya. Sebut saja Gramphone Company, Bintang Sapoe, dan Anker. Label-label rekaman tersebut mempunyai para artisnya masing-masing yang tentu saja merilis singles yang menjual. Perjalanan musik rekaman di Indonesia, walau saat itu masih berada di zaman kolonialisme, merupakan sesuatu yang memperlihatkan langkah yang baik di dunia seni, khususnya di musik.

Sedikit menengok ke masa kini. Berkembangnya teknologi di tiap tahun, juga memberikan efek ke dunia musik terutama di Indoneisia. Masuknya internet contohnya adalah salah satu faktor yang membuat label rekaman yang ada kalang kabut. Hal ini tentu saja berdampak, karena dengan mudahnya setiap orang dapat ,mengundung dan membajak karya-karya para musisi. Gambaran tersebut terjadi di Indonesia kini, sedangkan 1 abad yang lalu para penikmat musik kerap keluar untuk menikmati seni pertujunkan yang digelar. Sedangkan bagi lapisan atas dapat membeli piringan hitam yang diproduksi oleh label-label rekaman yang eksis saat itu. Pirigan hitam atau vinyl pun tidak dapat diputar tanpa gramophone, yang tentu saja tidak murah harganya.

Para artis yang diproduksi oleh Odeon Records pun menampilkan kualitas mereka dalam dunia musik dapat dinikmati dengan media piringan hitam tersebut. Buku 100 Tahun Sejarah Musik Indonesia, Denny Sakrie menulis bahwa Odeon Records merupakan tempat bernaung bagi sederat penyanyi yang dikategorikan sebagai second-rank artis antara lain adalah Miss Alang, Miss Lee, Siti Amsah, Nji Resna, dan Nji Iti Narem. Label asal Jerman ini mempunyai ketua pemimpin ansambel yang kerap mengiringi para artis Odeon tampil, dia adalah Mr Jahri atau kerap dipanggil Jaar.

Perang adalah salah satu momok yang menyebabkan dampak ke tiap lapisan saat itu, tidak terkecuali ke industri musik. Di tahun 1926, Carl Lindstrom pemilik Odeon Records dsb diakuisisi oleh Perusahaan Columbia Graphophone asal Inggris. Kemudian di tahun 1931, Columbia bergabung dengan Electrola dan label lainnya untuk membentuk salah satu label rekaman terbesar di dunia hingga saat ini, yakni EMI.

Setiap label rekaman yang ada pasti menghitung nilai-nilai produksi untuk setiap artisnya masing-masing.Menarik perhatian setiap khalayak ramai adalah salah satu faktor yang dituju oleh label rekaman yang ada dan tentu saja artisnya. Baik dulu maupun sekarang. Mengaca kepada Odeon Records maupun Beka Records (sebagai label rekaman yang berada dalam satu naungan yang sama) beberapa dasawarsa yang lalu, batu sandungan terbesar label-label rekaman tersebut adalah perang melawan negara lain yang menjadi lawan. Sedangkan masa kini adalah perang melawan pembajakan yang telah menjamur di negeri Indonesia ini. (RS)

Referensi : Denny Sakrie buku 100 Tahun Musik Indonesia

Twitter : @nteph0909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *