wr-soepratman

Musik Indonesia di Jaman Revolusi Perjuangan

wr-soepratman

Di era tahun 1945 revolusi perjuangan bangsa masih dalam pergolakan, lalu bagaimanakah perkembangan musik saat itu? Dikutip dari buku Musik Indonesia dan Permasalahannya yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1952, tulisan J.A. Dungga dan L. Manik, menyebutkan bahwasanya lagu-lagu yang menceritakan perjuangan bangsa dibagi ke dalam 4 kategori, yaitu:

Lagu-lagu tanah air berupa mars
Jenis lagu mars biasanya dinyanyikan oleh pasukan yang berlatih untuk berjuang terutama di lini terdepan, tujuannya tak lain adalah mengobarkan semangat perjuangan. Lagu mars yang bertajuk “Dari Barat Sampai ke Timur” merupakan lagu yang dikumandangkan tak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam lagu ini melodi bait pertamanya memiliki kemiripan dengan lagu kebangsaan Perancis yang berjudul “La Marseilaise”. Bukan hanya itu saja, J.A. Dungga dan L. Manik juga menemukan kemiripan dalam notasi melodi antara lagu “Halo Halo Bandung” dengan lagu “When It’s Springtime In The Rockies” yang bergaya bluegrass, ciptaan Robert Saver dan Hale Woolsey.

Lagu-lagu tanah air bernuansa tenang
Meskipun dari segi tema memiliki kesamaan dengan lagu-lagu mars, namun bernuansa lebih tenang, seperti pada lagu “Tanah Airku” ciptaan Iskak, “Tanah Tumpah Darahku” ciptaan Cornel Simandjuntak, “Syukur” ciptaan H. Mutahar dan “Padamu Negeri” ciptaan Kusbini.

Lagu-lagu percintaan
Pada masa revolusi banyak juga lagu yang bertema percintaan meskipun masih tetap dalam lingkup perjuangan para pejuang saat itu. Hampir semua lagu percintaan memiliki tema yang mirip, yaitu seputar kisah perpisahan antara seorang gadis dengan kekasihnya yang harus mengemban tugas perjuangan di garis depan dengan perasaan tak menentu karena mungkin akan pergi untuk selamanya. Lagu yang melukiskan hal itu adalah beberapa lagu karya Ismail Marzuki seperti “Gugur Bunga”, “Selendang Sutera”, “Melati di Tapl Batas”,” Bandung Laut Selatan” dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu Sindiran
Di era revolusi juga ada beberapa lagu yang bertema sindiran, terutama untuk melukiskan keburukan yang terjadi di masyarakat pada masa perjuangan. Meski tak banyak lagu dengan tema ini, namun satu di antaranya adalah lagu “Ibu, Aku Tak Sudi Tukang Catut” yang merupakan ungkapan hati tentang rasa jijik seorang gadis pada tukang catut yang pada masa itu dianggap merugikan perjuangan. Selain tak banyak, lagu yang betema sindiran juga tidak diketahui nama penciptanya. Di kemudian hari, lagu semacam ini sering di sebut sebagai kritik sosial seperti lagu yang banyak diusung oleh Iwan Fals dan Slank saat ini.

Pada masa revolusi perjuangan, tema patriotisme menjadi tema paling populer saat itu. Beberapa komponis besar Indonesia yang menciptakan lagu-lagu dengan semangat patriotisme antara lain, Ismail Marzuki, C. Simandjuntak, WR. Supratman, H. Mutahar dan Liberty Manik dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu jenis musik yang populer saat itu adalah keroncong, tak heran jika kemudian keroncong juga banyak dipengaruhi oleh semangat perjuangan dan revolusi pada masa itu. Sehingga kemudian muncul jenis keroncong bertema revolusi yang sering disebut dengan Keroncong Merdeka, yang kebanyakan liriknya merupakan bentuk refleksi rasa nasionalisme yang tinggi.

Selain keroncong, ada jenis musik lain yang cukup populer pada era revolusi perjuangan di tahun 1940-an, yaitu musik gambus dan Hawaii. Keroncong dikenal sebagai jenis musik yang memadukan pengaruh barat dan timur, dengan peralatan yang mayoritas berupa instrumen dawai. Jenis musik keroncong dianggap dapat memenuhi selera bermusik kalangan menengah ke bawah pada masa itu. Adapun musik gambus dikenal sebagai jenis musik campuran Persia, Arab, dan Melayu yang banyak digemari oleh umat Islam pada masa itu. Gambus inilah yang kemudian menjadi cikal bakal musik dangdut saat ini. Sedangkan musik Hawaii banyak dipengaruhi musik Amerika, salah satunya adalah nuansa jazz yang kental. Musik jazz sendiri lebih banyak digemari kalangan tertentu sehingga menjadikan musik jenis ini dianggap kurang merakyat.

Pada masa Pendudukan Jepang, pengaruh barat banyak yang dikikis oleh Jepang karena tekadnya melawan imperialsime Barat. Jepang berusaha untuk menghapus pengaruh barat dari kesenian dan budaya Indonesia. Melalui lembaga kebudayaan Keimin Bunka Shidoso, Jepang juga mengembangkan dan memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan Jepang. Keroncong yang sebelumnya dianggap memiliki “cap barat” mendapatkan perhatian khusus pada masa itu.
Referensi: Buku 100 Tahun Musik Indonesia oleh Dennie Sakrie

http://reviewmusik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *