piringan-hitam

Kisah Vinyl: Piringan Hitam Perekam Musik Indonesia

Musik adalah salah satu warna yang dapat menghiasi kehidupan seseorang. Para penikmat musik seakan bangga dengan pilihan musik yang mereka pilih. Ada yang menyukai rock and roll, pop, atau pun jazz. Oleh karena permintaan pasar yang meningkat tiap tahunnya di industri musik, para label rekaman pun kerap berlomba-lomba untuk memproduksi para artis atau musisinya sebaik mungkin. Seiring berjalan waktu pula, teknologi juga semakin berkembang. Hal ini pun juga berdampak di industri rekaman. Kaset, cd dan kini dengan mudah dapat diunduh dari internet bahkan di ponsel sekalipun adalah salah satu bentuk produksi industri musik di pasaran. Kembali ke beberapa dasawarsa silam, para orang tua pasti mengenal istilah vinyl atau piringan hitam yang kerap memutarkan lagu-lagu idola mereka saat itu. Walau kini keberadaannya telah ‘digantikan’ dengan alat-alat yang lebih canggih sekalipun, ternyata masih banyak para penikmat musik yang bertahan pada piringan hitam. Mari sejenak bernostalgia dengan piringan hitam tersebut.

Piringan hitam jelas sangat berbeda dengan kaset maupun CD sekali pun. Dari segi fisiknya saja piringan hitam besar dan agak berat, kira-kira dapat mencapai 90-200 gram. Maka piringan hitam memang tidak praktis umtuk dibawa ke berbagai tempat. Ditambah alat pemutarnya, yakni gramophone yang tidak mudah untuk mendapatkannya. Selain untuk di era kekinian yang dapat dikategorikan sebagai barang antik, di eranya pun dapat terbilang mahal. Salah satu kelebihan dari piringan hitam adalah tidak mudah rusak dan suara yag direkam juga bagus. Singkat kata, jikalau plat piringan hitam tersebut tidak terbaret-baret, sebuah piringan hitam tidak akan bermasalah dan layak dimainkan.

Di tahun 1957, piringan hitam mulai digunakan oleh bangsa Indonesia sebagai alat perekam. Walau jauh sebelum Indonesia merdeka, banyak label rekaman dari luar yang telah menggunakan piringan hitam. Perusahaan rekaman dari Indonesia sendiri yang berjaya saat itu dan memproduksi piringan hitam adalah Lokananta di Surakarta dan Irama di Ibu Kota, tepatnya di Menteng. Artis-artis Indonesia yang merekam lagu-lagunya di label rekaman tersebut dalam format piringan hitam adalah Titiek Puspa, Koes Plus, Dara Puspita, dan Lilies Suryani.

piringan-hitam

Piringan hitam sendiri mempunyai tiga ukuran dalam hitungan rotation per minute (rpm). Piringan hitam 78 dan 45 untuk plat berdiameter 25 cm, sedangkan 33 1/3 untuk plat berdiameter 30 cm. Semakin besar diameter platnya, semakin kecil ukuran untuk memutarnya. Sejarah piringan hitam berasal dari Emilie Berliner yang pada tahun 1888 menemukan piringan hitam jenis baru yang dapat diputar oleh gramophone dan mematenkannya di bawah label Berliner Gramaphone. Kemudian di tahun 1918 masa pematenan berakhir, semua label pun berlomba-lomba untuk memproduksi piringan hitam mengkilat. Pada masa itu, kebanyakan pemilik gramophone masih terbatas pada kalangan menengah atas saja.

Tak disangka, dua tahun belakangan Billboard mengabarkan bahwa pada 2014 tercatat penjualan piringan hitam capai angka 9,2 juta, sedangkan pada 2013 terjual 6,1 juta. Survei tersebut diperkuat oleh Lembaga Survey Nielsen bahwa piringan hitam paling laris pada 2014 adalah album Lazaretto dari Jack White. Sedangkan, 94 album lainnya tercatat laku di atas 10 ribu kopi sepanjang 2014. Fenomena lainnya adalah 57% penjualan piringan hitam pada 2014 melalui toko musik independen dan 36% lainnya melalui penjualan via toko maya di internet.

Kolektor barang antik, terutama piringan hitam yang memutar lagu-lagu jadul dapat lebih dekat dan merasakan nostalgia lebih dalam dapat mengunjungi sebuah banguanan di Surakarta yang telah diresmikan menjadi Cagar Budaya, yakni Lokananta. Nama tersebut mungkin tak asing bagi para penggemar musik pada era 1960 hingga 1990-an. Lokananta sendiri adalah tonggak penting sejarah perkembangan musik Indonesia. Saat ini lokananta berusia 58 tahun. Usia yang bukan main-main untuk sebuah label musik Indonesia yang berada di bawah Perum Percetakan Negara Republik Indonesia ini. Nama-nama besar seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan Sam Saimun ‘lahir’ di Lokananta. Salah satunya adalah ruangan penyimpanan koleksi piringan hitam. Koleksi seperti Waldjinah, Orkes Aneka Warna, Orkes Kerontjong Tjendrawasih, dan masih banyak yang lainnya dapat ditemukan di sini. Selain Lokananta, masih ada banyak tempat lain yang menjual piringan hitam untuk mereka yang merindukan masa-masa piringan hitam. (RS)

Referensi : Nasional Kompas, Metro Tv, dan Wikipedia.

Twitter : @nteph0909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *