soekarno-dan-elvis

Inilah Alasan Mengapa Soekarno Melarang Ngak Ngik Ngok

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, tepatnya di tahun 1950-an rakyat Indonesia tidak diperkenankan untuk membawakan lagu-lagu asing berbahasa Inggris bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan musik impor itu. Sejak tahun 1950-an rakyat Indonesia mulai menyenangi budaya Barat, terutama dari musik dan film. Melalui radio luar negeri seperti ABC Australia, Hilversum Belanda, dan Voice of America (VOA) masyarakat Indonesia dapat mengakses musik barat termasuk soundtrack film-film Barat yang masuk ke Indonesia.

Dalam perkembangannya, musik rock and roll asal Amerika semakin mewabah ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Salah satu bintang yang cukup memukau anak muda di Indonesia saat itu adalah Bill Haley, musisi rock and roll yang turut membintangi film Rock Around The Clock (1956).Selain itu nama Elvis Presley sebagai musisi rock and roll juga langsung merebut simpati anak muda Indonesia.

soekarno-dan-elvis

Masuknya budaya barat dalam bidang musik tak urung menginspirasi anak bangsa untuk membentuk band yang pada masanya lebih populer dengan istilah orkes. Bahkan beberapa kompetisi orkespun mulai digelar, salah satunya adalah Festival Irama Populer.

Melihat fenomena tersebut, Presiden Soekarno menganggap hal itu sebagai sesuatu yang bisa meracuni jiwa dan budaya bangsa. Salah satu kekhawatiran yang paling dirasakan Soekarno adalah jika budaya asli Indonesia sebagai kekayaan bangsa lambat laun akan terpinggirkan dan punah ditelan budaya Barat yang gemerlap. Sebagai upaya untuk menangkal kekhawatiran tersebut, pada perayaan Hari Proklamasi 17 Agustus 1956, dikeluarkan sebuah manisfesto yang dikenal dengan nama Manipol USDEK (Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).

Sedemikian benci-nya kah Soekarno terhadap budaya barat ? Terhadap music Rock N Roll ? Sebenar tidak, bahnkan dalam kunjungannya ke Amerika Soekarno sempat bertemu Sang Raja Rock’n Roll Elvis Presley.  Namun ada alasan politis yang tepat dibalik kebijakannya. Untuk melindungi kebudayaan bangsa dari pengaruh asing, terutama Barat, maka sejak bulan Oktober 1959 siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dilarang untuk memutar atau memperdengarkan lagu-lagu Barat semacam rock and roll, cha cha, tango hingga mambo yang diistilahkan dengan nama musik “ngak ngik ngok” oleh Presiden Soekarno. Tujuannya jelas: Mengajak seluruh bangsa menghargai budayanya sendiri. Sebuah langkah logis pada bangsa yang baru saja terbentuk dan berdiri.

Namun larangan tersebut justru memunculkan kreativitas para seniman muda Indonesia, salah satunya adalah dibawakannya lagu Bengawan Solo karya Gesang dengan gaya bernyanyi ala Elvis Presley oleh Oslan Husein yang diiringi orkes Teruna Ria dan dipimpin gitaris Zaenal Abidin.

Selain melarang budaya Barat, di sisi lain Presiden Soekarno juga memberikan teladan kepada anak bangsa dengan berupaya menggali potensi budaya daerah. Untuk menggantikan budaya dansa yang kadung populer di berbagai ballroom dan kelab, Presiden Soekarno pun menggagas untuk menggali irama lenso yang diambil dari seni budaya Maluku, berupa tarian tradisional asal Ambon, Maluku. Lenso memiliki arti ‘saputangan’ dalam bahasa Maluku, dimana tarian ini diiringi musik yang bertempo medium dengan saputangan yang digenggam oleh setiap penari.
Jack Lesmana (Jack Lemmers), Idris Sardi, dan Bing Slamet, diundang oleh Presiden Soekarno untuk menggali irama musik lenso. Bahkan Presiden Soekarno tak segan-segan ikut dalam penggarapan lagu berirama lenso tersebut. Salah satu lagu yang dihasilkan dari khazanah irama lenso adalah lagu “Bersuka Ria”. Lagu ini kemudian masuk dalam album kompilasi yang bertajuk “Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso” yang dirilis pada 14 April 1965 dan dinyanyikan oleh Rita Zaharah, Nien Lesmana, Bing Slamet dan Titiek Puspa.

Setidaknya tiga lagu rakyat masuk dalam album tersebut, yaitu “Soleram”, “Burung Kakatua”, dan “Gelang Sipaku Gelang” Lagu-lagu di dalamnnya sangat bernuansa Indonesia, seperti lagu “Bengawan Solo” karya Gesang, “Euis” karya Trihanto, “Malam Bainai” karya Karim Nun dan “Gendjer-gendjer” karya Muhammad Arif. Meski kemudian lagu Gendjer-gendjer menjadi kontroversial saat terjadinya Gerakan 30 September oleh Partai Komunis, karena diasosiasikan sebagai piranti PKI. Hingga kemudian di bawah rezim Orde Baru, lagu bercerita tentang sayur-sayuran ini benar-benar dilarang karena dianggap mengandung ajaran komunis.

Pada akhirnya Presiden Soekarno dalam lawatannya ke Eropa dan Amerika Serikat antara tahun 1964-1965 membawa sejumlah seniman musik kepercayaannya. Beberapa seniman musik handal kemudian disatukan dalam sebuah proyek yang bernama The Lensoists. Yang terdiri dari Bing Slamet, Titiek Puspa, Nien Lesmana dan Munif A. Bahassuan, turut pula sejumlah musisi handal seperti Idris Sardi (biola), Jack Lesmana (gitar), Bubi Chen (piano), Darmono (vibraphone), Loddy Item (gitar), Maskan (bas), dan Benny Mustafa (drum).

Soekarno memang melarang Ngak Ngik Ngok, tapi bukan berarti Soekarno membencinya. Baik kebijakan melarang rock and roll maupun tindakan untuk memperkenalkan musik Indonesia ke kancah dunia, semua didasari oleh hal yang sama yaitu membangun nasionalisme Bangsa Indonesia. Sebuah tindakan yang sangat tepat dilakukan pada masanya.

Sumber: 100 tahun musik Indonesia oleh Dennie Sakrie

http://reviewmusik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *