keroncong toegoe

Ini Keroncong

Aliran musik mainstream seperti Pop, jazz, rock, blues, RnB, dan dangdut saat ini tentu sudah sangat akrab dengan telinga masyarakat Indonesia. Wajar karena memang pada dasarnya aliran-aliran musik tersebut lah yang mempunyai penikmat-penikmat terbanyak hingga saat ini, terutama untuk anak muda. Namun jauh sebelum musik Indonesia berkembang seperti sekarang ada masa dimana musik bernama Keroncong berjaya. Di era ketika Indonesia masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda, masyarakat pribumi saat itu sangat akrab dengan musik keroncong. Betul sekali, keroncong, musik yang para penikmatnya hingga kini masih tetap setia. Berikut ini perjalanan musik keroncong di Indonesia.

Keroncong merupakan satu dari sekian banyak musik tradisi Indonesia. Keroncong sendiri menggunakan instrumen musik sejenis ukulele, flute, dan penyanyi wanita. Sejarah keroncong dapat dilihat di tahun 1641 saat Belanda berhasil menguasai tanah Nusantara yang terbentang dari Malaka ke Maluku sehingga kekuasaan Portugis yang sebelumnya menguasai Tanah Air dipastikan habis. Tetapi ada satu wilayah kecil di Batavia, yakni desa Toegoe, yang didiami oleh budak Portugis yang disebut madjikers masih mempertahankan budaya Portugis dari bahasa hingga tradisi musiknya. Selama lebih dari 3 abad karena kelompok madjikers juga Keroncong Toegoe tetap terjaga, serta dikembangkan dengan penyesuaian tradisi. Pada masa awal-awal ini pula Keroncong Toegoe dikenal sebagai masa Keroncong Tempo Doeloe.

keroncong toegoe

Abad 20, tepatnya di tahun 1935 Kusbini mengaransemen lagu asal Portugis yakni Moresco Portugis yang kemudian dikenal sebagai komposisi keroncong pertama yang ditulis. Beralih ke tahun 1940, musisi asal Solo yakni Gesang menciptakan komposisi yang legendaris hingga saat ini, yakni “Bengawan Solo”. Gesang pun mendapatkan julukan ‘buaya keroncong’ oleh para insan Indonesia, karena karyanya yang menjadikan keroncong sebagai produk budaya Indonesia. Pada masa ini pula keroncong dibagi tiga jenis, yakni keroncong asli yaitu keroncong yang dikembangkan pertama kali oleh orang-orang di Kampung Toegoe. Lalu ada stambul keroncong yang sudah lebih dulu hadir di masa Keroncong Tempoe Doeloe, memilik kekhasannya di syair seperti pantun. Ketiga adalah langgam keroncong yang divariasikan dengan bunyi alat tradisional Jawa sebut saja gamelan dan seruling.

Tahun 1959, keroncong dicampur kembali dengan aliran musik pop dan beat. Keroncong di era 1950-an ini disebut keroncong modern, yang tentu saja dipengaruhi oleh budaya Barat. Lalu 10 tahun kemudian, di tahun 1960an, tepatnya di Yogyakarta lahir lah musik Campursari yang merupakan bentuk lain dari Keroncong yang dimainkan dengan gamelan dan kendang ditambah oleh gitar, bass, organ, bahkan saxophone dapat didengar di Campursari. Waldjinah dan Soendari Soekotjo merupakan musisi-musisi ternama yang masih setia kepada keroncong.
Walau bukan menjadi arus utama musik Indonesia, keroncong tetap lah menjadi salah satu musik yang menghiasi perjalanan sejarah musik di Indonesia. Bahkan sedari negara Republik Indonesia belum berdiri. Saat ini di tengah derasnya industri musik yang berada di arus utama, keroncong masih tetap dapat dinikmati dan masih tetap eksis oleh para penikmatnya yang masih setia. Keroncong adalah produk dari budaya Indonesia yang telah dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Mendengarkan keroncong saat ini, sebut saja Bengawan Solo karya Gesang yang telah terkenal, seakan mengajak pendengarnya untuk bernostalgia ke Indonesia tempo dulu. Ini lah keroncong. (RS)

Oleh : Ruth Stephanie @nteph0909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *