idris-sardi

Idris Sardi Yang Bicara Lewat Biola

Idris Sardi merupakan salah satu komposer legendaris yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Pernah bergabung dengan Eka Sapta bersama Bing Slamet di era 1960-an. Kepiawaiannya dalam memainkan biola menjadikan dirinya menjadi violist terbaik yang pernah ada di Indonesia. Idris Sardi terlahir dari pasangan Sardi dan Hadidjah. Lahir pada 7 Juni 1938. Hadidjah, ibunya merupakan aktris populer Indonesia di era 1940 – 1970 an. Memulai akrab dengan biola saat usianya baru enam tahun. Idris Sardi juga mendapat julukan sebagai “anak ajaib”, karena kepiawaiannya dalam memainkan biolanya di usia yang masih sangat belia. Penampilannya di Yogyakarta saat usianya baru 10 tahun pada 1949 mampu memukau pengunjung dan merupakan penampilannya yang pertama kali di muka umum.

Saat sekolah musik Indonesia dibuka pada tahun 1952, kembali Idris Sardi menorehkan prestasinya. Di usianya yang baru 14 tahun dan belum lulus SMP, karena permainannya yang sangat luar biasa membuat dirinya bisa diterima sebagai siswa SMIND. Di SMIND, bersama Suyono salah seorang temannya, Idris Sardi merupakan siswa yang sangat berbakat. Pada pertunjukan orkes siswa SMIND yang dipimpin oleh Nikolai Varvolomejef, Idris Sardi tampil sebagai concert master di usianya yang baru 14 tahun dengan memakai celana pendek duduk bersanding dengan Suyono. Ketika sang ayah meninggal di tahun 1953, Idris Sardi harus menggantikan ayahnya sebagai pemain biola pertama di Orkes RRI Jakarta pimpinan Siaful Bahri.

Idris Sardi mulai benar-benar menekuni biola secara serius. Pola permainannya beralih dari yang cenderung idealis ala Heifetz beralih menjadi lebih komersil seperti pada pola-pola permainan Helmut Zackarias. Akibat dari berubahnya pola permainannya ini kemudian mengakibatkan para pengamat dan kritisi musik menuduhnya sebagai pelacur musik. Kritikan ini dilontarkannya karena merubah dari musik serius ke musik populer. Pembelaannya terhadap kritikan pedas para pengamat musik tersebut dijawabnya bahwa dirinya harus realistis. Hal tersebut dilakukannya untuk tetap bertahan hidup tanpa harus beralih profesi. Apabila, Idris Sardi lebih mengasah kemampuannya bermain biola di tingkat master bersama Jascha Heifetz dan Yahudi Menuhin, tentunya beliau bisa menjadi violis kelas dunia. Meski demikian, Idris Sardi tetap setingkat dengan Helmut Zacharias.

Sepanjang karirnya di dunia hiburan, Idris Sardi merupakan ilustrator musik serta penata musik film atau scoring. Prestasinya saat beliau mendapatkan Piala Citra sebagai penata musik terbaik di beberapa film seperti Pengantin Remaja ( 1971) yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati, Cinta Pertama (1974), dan Doea Tanda Mata (1985) dengan bintang (alm) Alex Komang. Idris Sardi merupakan ayah dari Santi Sardi dan aktor Lukman Sardi. Kedua anaknya yang juga berkarir di dunia film ini merupakan buah pernikahannya dengan Zerlita yang kemudian bercerai. Setelah bercerai, Idris Sardi kemudian menikahi Marini yang akhirnya pun harus kandas, dan untuk ketiga kalinya menikah kembali dengan Ratih Putri.

Sebagai seorang violis handal tanah air, ilmu yang dimiliki tidak untuk dirinya sendiri. Beliau juga menurunkan bakat musiknya kepada salah seorang muridnya yakni Maylaffayza. Sebagai muridnya, Maylaffayza menuturkan bahwa mentornya ini memiliki gesekan yang sangat sukar untuk diikuti iramanya. Terutama saat memberikan presisi ritmik serta menentukan kelincahan dalam pasaase yang cepat. Hingga di usia senja, Idris Sardi memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah akademi musik yang diperuntukkan kepada anak-anak berbakat di seluruh Indonesia namun tidak memiliki kemampuan untuk belajar musik. Menurutnya, anak-anak masa kini merupakan korban dari jaman yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya serta kesulitan untuk mendapatkan akses terhadap musik yang baik.

idris-sardi

Namanya manusia terlebih di usia yang senja, tentu masalah kesehatan menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Idris Sardi sang maestro divonis menderita penyakit kanker usus. Pertama kali divonis pada tahun 1998 ketika usianya melewati 60 tahun. Sebelum meninggal di tahun 2010, Idris Sardi sempat menggelar konser pamungkas yang tujuannya untuk menutup karirnya bermain biola. Ketika itu, permainannya masih memukau para penngunjung. Dan pada 28 April 2014, di Rumah Sakit Meilia Cibubur pada pukul 07.25, Idris Sardi menutup mata untuk selamanya di usianya yang ke 75. Pesan beliau sebelum meninggal untuk terus mengingatkan kepada generasi muda untuk selalu sadar akan budaya lokal di tengah arus globalisasi dan penetrasi musik barat yang semakin kuat. Idris Sardi merupakan pribadi yang bijaksana. Beliau tidak pernah menyalahkan anak-anak muda, karena di matanya anak-anak muda ini merupakan korban zaman.

By: anton_djati@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *