bing-slamet-1

Bing Slamet Seniman Multitalenta Indonesia

Memiliki nama lengkap Ahmad Syech Albar, Bing Slamet dilahirkan di Cilegon pada 27 September 1927. Beliau merupakan salah seorang legenda di dunia komedi tanah air. Di dunia komedi tanah air, Bing Slamet membentuk grup lawak yang dianggotai Bing Slamet, Ateng, Iskak, dan Eddy Sud yang kemudian beliau beri nama Kwartet Jaya. Selain sebagai pelawak, Bing Slamet juga merupakan seorang penyanyi. Karirnya di dunia tarik suara diawali saat bergabung dengan sebuah grup musik yang bernama Eka Sapta di tahun 1963. Di band Eka Sapta Bing Slamet bermain bersama Yamin Wijaya, Ireng Maulana, Itje Kaunang, Benny Mustapha dan Idris Sardi.
Bing Slamet terlahir sebagai anak seorang mantri pasar yang bernama Rintrik Achmad. Sejak awal, Bing Slamet memang rterlahir sebagai seorang penghibur. Dalam setiap kesempatan, bakatnya digunakan untuk menghibur para pejuang yang sedang berjuang di kurun waktu 1942 – 1945. Bing Slamet menghibur para pejuang melalui corong radio untuk memberikan semangat kepada pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.

bing-slamet

Bakat seninya yang telah mengalir sejak kecil dibuktikan saat bergabung pada Orkes Terang Bulan di kala usianya baru 12 tahun di tahun 1939. Orkes Terang Bulan merupakan pimpinan Husin Kasimun yang memberikan bakat seninya tersalurkan. Setelah Indonesia merdeka tepatnya setahun setelah kemerdekaan, Bing Slamet bergabung di Teater Pantja Warna. Karena cintanya akan dunia seni, Bing Slamet menolak keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di kedokteran atau menjadi seorang insinyur. Bing Slamet sempat menimba ilmu di HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, Sjugakko, dan juga STM Penerbangan. Namun karena cintanya akan dunia seni, pendidikan yang telah beliau tempuh tidak membuatnya untuk meninggalkan dunia seni yang digelutinya.
Di dunia militer, Bing Slamet juga pernah bergabung yakni di Divisi I Brawijaya. Di divisi ini, beliau berada di Barisan Penghibur. Di sinilah bakat seni di bidang musik dan lawak mulai terasah dan terlihat. Kecintaannya pada dunia seni ini, Bing Slamet rela ditempatkan di manapun untuk memberikan hiburan kepada pejuang, dan pada akhirnya beliau ditempatkan di RRI Yogyakarta dan Malang. Awal karirnya di dunia seni suara saat mengisi soundtrack untuk film Menanti Kasih arahan sutradara Mohammad Said dan dibintangi oleh A. Hamid Arief dan Nila Djuwita di tahun 1949. Setelah itu, karir beliau di dunia musik semakin meningkat. Saat di radio, yaitu di RRI, beliau banyak mendapatkan ilmu berharga dari Iskandar yang merupakan musisi keroncong ternama. Kemudian ada nama M. Sagi dan Sjaifoel Bachrie. Soetedjo, dan juga Ismail Marzuki merupakan pengaruh besar dalam karir bermusiknya. Dan yang menjadi panutannya dalam bernyanyi, Bing Slamet banyak mendapatkan pengaruh dari seorang Sam Saimun yang dikenalnya di Yogyakarta di tahun 1944.

Selain berkarir di dunia musik yang telah dilakoni sejak era 30-an. Bing Slamet mulai merambah dunia film. Awal mula karirnya di dunia film yaitu pada tahun 1950-an. Saat itu, Bing Slamet masih aktif bertugas di Angkatan Laut. Saat kembali bergabung di RRI Jakarta, beliau mulai aktif mengisi acara bersama Adi Karso. Prestasi yang dimiliki Bing Slamet, yakni di tahun 1955 saat menjuarai Bintang Radio untuk kategori Hiburan. Saat itu pula, Bing Slamet merilis sebuah piringan Hitam di bawah label Gembira Record dan Irama Record.

bing-slamet-2

Semenjak itulah, karya-karya Bing Slamet mulai bermunculan. Beberapa single yang pernah dipopulerkan Bing Slamet diantaranya Hanya Semalam, Risau, Padamu, Murai Kasih, dan yang paling mendapat atensi luar biasa dari para khalayak adalah Belaian Sayang. Bing Slamet merupakan artis serba bisa. Beliau sangat fasih dalam menyanyikan lagu dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Di era 1960-an, Bing Slamet membentuk grup musik Eka Sapta. Di band inilah, Bing Slamet memusatkan perhatiannya dalam memainkan alat musik. Eka Sapta telah merilis beberapa album di bawah label Bali Record, Canary Record, dan juga Metropolitan Record. Label terakhir inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari Musica Studios.

Sukses di dunia musik dan dunia film ternyata tidak membuat Bing Slamet terpecahkan konsentrasinya. Beliau mampu membagi fokusnya antara musik, film, serta aktivitas seni lainnya. Semasa hidup beliau telah bermain di 20 film layar lebar dari jaman film masih hitam putih hingga yang telah menggunakan warna. Karena beliau merupakan pengagum dari Bing Crosby yang merupakan penyanyi terkenal mancanegara di era 1950-an, maka beliau menyisipkan nama “Bing” di depan namanya yang kemudian dikenal menjadi Bing Slamet. Di kehidupan pribadinya, Bing Slamet menikah dengan Ratna Komala Furi dan dianugerahi 8 orang anak, dimana beberapa putra putri beliau ada yang mengikuti jejak sang ayah sebagai seniman. Seperti yang sudah diketahui nama-nama seperti Uci Bing Slamet, Adi Bing Slamet, dan Iyut Bing Slamet merupakan beberapa putra putri Bing Slamet yang berkarir di dunia seni. Tidak hanya itu saja, generasi ketiga dari Bing Slamet yakni Ayudhia Bing Slamet juga mengikuti jejak sang kakek menjadi pemain sinetron dan juga film. Beberapa penghargaan telah diterima Bing Slamet atas dedikasinya yang sangat tinggi di bidang seni. Di tahun 1972 tepatnya pada 10 Juni, Gubernur DKI pada masa itu Ali Sadikin memberikan piagam penghargaaan kepada beliau. Dan pada 7 November 2003, Presiden RI Megawati Soekarnoputri memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Bing Slamet.

Dua tahun setelah menerima piagam dari Gubernur DKI, Ali Sadikin berita duka menyelimuti dunia hiburan tanah air. Bing Slamet sang maestro meninggal pada 17 September 1974. Sebelumnya Bing diberitakan ambruk saat sedang mengadakan pentas di Tegal bersama Kwartet Jaya. Setelah itu, Bing benar-benar vakum dari dunia hiburan hingga meninggal. Kepergiannya meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi masyarakat tanah air. Iring-iringan kendaraan yang mengantarkan jenazahnya hingga mencapai 4 km panjangnya. Bing Slamet dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Siang.

Berikut ini beberapa karya beliau yang pernah dipublikasikan dan dirilis oleh Bing Slamet sepanjang karirnya di dunia hiburan.

Album Musik
1. Menanti Kasih (Lokananta)
2. Nurlaila (Irama Records)
3. Puspa Ragam Lagu Indonesia No 49 ‘Seruan Gembala’ (Irama -IRA 65)
4. Puspa Ragam Lagu Indonesia No 50 ‘Aju Kesuma’ (Irama -IRA 66)
5. Kr Moritsu – Bing Slamet dan Orkes Kerontjong M Sagi (Irama – IRK 125-1)
6. Es Lilin/Panon Hideung – Bing Slamet & Melodi Ria (Gembira Records RN 003)
7. Souvenir Pemilu 1971 Feat. Pohon Beringin
8. Kisah Pasar Baru Feat. Pajung Fantasi (Irama Records)
9. Bing Slamet Tersayang – MGM Records
10. Romi dan Juli – Titiek Puspa & Bing Slamet (Canary Record TCC 1032)
11. Bersama Eka Sapta[sunting | sunting sumber]
12. Burung Kutijija – Eka Sapta (Mutiara MEP 007)
13. Eka Sapta – Eka Sapta (Mutiara ML 1001)
14. Kasih Remadja – Eka Sapta (Bali Record BER 007)
15. Bing dan Giman Bernyanyi – Eka Sapta (Bali Record 008)
16. Varia Malam Eka Sapta Nonstop Revue (Bali Record BLM 7002)
17. Bing Slamet dan Eka Sapta – Eka Sapta (Bali Records BLM 7103)
18. Kerontjong – Eka Sapta (Canary 1970).
19. The Best Of Romantic Keronchong (Canary/Metropolitan 1972).
20. Album Kenang-kenangan Bing Slamet – Bali Record BCC01
21. Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (Irama LPI 17588) (1965)
22. GAJAH DUNGKUL – Titik Puspa, Bing Slamet dan Indonesia Tiga. (BALI record BLP 7005)
23. Mak Tjomblang – Bing Slamet dan Maya Sopha (Bali Record/Remaco)
24. Album kumpulan[sunting | sunting sumber]
25. MERATAP SUNYI. (Ilhamku. -Irama. LPI. 17506)
26. ANEKA 12 Volume 5. (Feat. Nonton Bioskop; Sri Rahayu.-Remaco RLL-015)

Film
1. Solo di Waktu Malam (Borobudur Film,1952)
2. Di Simpang Djalan (Canary Film 1955)
3. Melati Sendja (Refic Film,1956)
4. Pilihlah Aku (Geliga Film,1956)
5. Radja Karet dari Singapura (Olympiad 1956)
6. Hari Libur (Anom Pictures,1957)
7. Tiga Buronan (Perfini 1957)
8. Bing Slamet Tukang Betjak (Golden Arrow, 1959) Nurlela, Diwajahmu Kulihat Bulan, Tukang Betjak
9. Amor dan Humoir (Perfini 1961),
10. Kisah Pelawak (PT Dara Mega Film 1961)
11. Bing Slamet Merantau (Panah Mas Film 1962)
12. Bunga Putih (PT Agora Film 1966)
13. Hantjurnya Petualang (PT Sarinande Film 1966)
14. 2 X 24 Jam (PT Bola Dunia Film 1967)
15. Juda Saba Desa (Wahju Film 1967)
16. Bing Slamet Setan Djalanan (Safari Sinar Sakti Film 1972)
17. Ambisi (Safari Sinar Sakti Film 1973)
18. Bing Slamet Dukun Palsu (Safari Sinar Sakti Film 1973)
19. Bing Slamet Sibuk (Safari Sinar Sakti Film 1973)
20. Bing Slamet Koboi Cengeng (Safari Sinar Sakti Film 1974)

by: anton_djati@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *