beka-records

BEKA RECORDS mengawali industri musik rekaman di Indonesia

Para penikmat musik saat ini memang sangat mudah untuk menikmati genre musik yang mereka sukai. Era dimana tiap genre musik mempunyai penikmatnya masing-masing, bahkan hingga bersaing di pasar industri musik. Masuk ke dapur rekaman untuk setiap orang yang ingin berkarier di industri musik pada dasarnya memang tidak mudah. Terlebih di era ini, industri rekaman atau label rekaman juga ingin meraih keuntungan yang berlebih dari tiap penyanyi yang diangkatnya. Pasar yang dituju, serta pesaing sesama label rekaman adalah hal-hal penting yang diperhitungkan oleh sebuah label rekaman. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai sebuah label rekaman di tahun 1900an, Beka Records.

beka-records

Pada umumnya di era 1900an, musik-musik Indonesia yang direkam menggunakan bahasa Melayu, yang hasilnya berupa piringan hitam atau vinyl. Hal tersebut dapat ditemukan dalam irama musik Keroncong dan Stambul (sila membuka 2 artikel sebelumnya mengenai musik Stambul dan Keroncong). Alm. Denny Sakrie, seorang pengamat musik, dalam blognya menulis bahwa genre dan subgenre yang berkembang sejak 1903 adalah musik-musik Indonesia yang merupakan serapan dari budaya Arab dan Tiongkok, serta pola musik yang tercerabut dari musik etnik dimulai dari Jawa, Bali, Cirebon, Sunda. Beralih ke 1930an, mulai terdengar ragam etnik Tapanuli dan Minangkabau.

Kiprah Beka Records tiba di Indonesia dapat dilihat dari perjalanannya di tahun 1905. Beka Records sendiri adalah sebuah label rekaman yang berasal dari Jerman. Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia, Denny Sakrie menulis bahwa sebelum tiba di tanah Indonesia, Beka telah melakukan recording tour ke beberapa negara. Seperti Burma, India, serta Mesir, dan tentu saja melakukan proyek rekaman terhadap musik-musik setempat. Kemudian saat Beka Records yang terdiri dari William Hadert, Heinrich Blumb, dan Willie Bleefeld merekam musik khas dari Indonesia mulai dari gamelan Jawa hingga lagu bergaya stambul.

Beka Records tercatat mempunyai sederet artis yang berada di dapur rekmannnya. Sebut saja Miss Riboet sebagai penyanyi dan aktris layar lebar yang tersukses era itu. Beka Records menampilkan rekaman Miss Riboet ini di tahun 1926-1927, hingga merekam sebanyak 188 lagu. Bukan hanya Miss Riboet yang menjadi artis yang berada di bawah naungan Beka Records saat itu. Ada Herlau, Toemina, dan Nji Moersih yang tercatat khusus menyanyikan lagu-lagu Sunda. Dapat disimpulkan bahwa label rekaman asal Jerman ini cukup produktif dalam menampilkan para penyanyi-penyanyi Tanah Air saat itu.

Sebelum Beka Records berhasil membuahkan artis sukses seperti Miss Riboet, label ini sempat didera permasalahan dikarenakan Perang Dunia I yang berkecamuk di Jerman. Hingga Beka dan beberapa label rekaman lainnya, sebut saja Odeon Records harus berada di dalam satu naungan satu perusahaan saja. Perang Dunia I yang memberikan efek ke industri musik saat itu. Di tahun 1920an, label rekaman tersebut dapat pulih dan kembali efektif di industri musik. Hal ini terbukti dengan munculnya Miss Riboet di bawah naungan Beka Records.
Beka Records sebagai label rekaman saat itu tidak sendiri dalam bergerak di industri musik. Tahun 1907, Odeon Records masuk ke Tanah Air. Kehadiran label rekaman ini pun juga berhasil mendominasi kekayaan musik Indonesia. Odeon Records tercatat membeli saham Beka Records di tahun 1911.

Tidak banyak memang dokumen-dokumen asli yang memberikan penjelasan lebih mengenai kiprah Beka Records di industri musik Indonesia. Tahun 1900an adalah tahun dimana teknologi masih seadanya. Tetapi walau begitu, di Indonesia masih banyak yang menikmati musik dengan cara masing-masing baik dengan genre yang digemari. Perjalanan Beka Records asal Jerman ini dapat mengenalkan para penikmat musik sebagai perjalanan sebuah label rekaman yang membuahkan para musisi di jamannya. (RS)

Referensi : Denny Sakrie buku 100 Tahun Musik Indonesia.

Twitter : @nteph0909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *