harvey-bintang-radio

Acara Bintang Radio dalam Sejarah Musik Indonesia

Lama sebelum maraknya kontes menyanyi di televisi seperti Indonesian Idol, The Voice, atau X-Factor, ada suatu masa dimana kontes menyanyi diselenggarakan melalui radio. Acara tersebut berjudul Bintang Radio dan sampai sekarang dianggap sebagai  pelopor ajang kempetisi dalam rangka pencarian bakat terutama dalam bidang tarik suara. Kompetisi ini pertama kali digagas oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 1951, tepatnya di tanggal 31 Desember betepatan dengan perayaan Hari Radio. Pada kompetisi tersebut ada 3 kategori lagu yang dilombakan, yaitu keroncong, seriosa dan hiburan, sebagai sebutan lazim untuk musik pop pada era itu.

Faktor utama yang dijadikan sebagai dasar untuk penilaian Bintang Radio adalah kemampuan vokal peserta dan ekspresi saat melantunkan lagu. Sehingga kualitas suara yang tinggi menjadi hal yang mutlak harus dipenuhi, itulah mengapa kualitas suara penyanyi tempo dulu terbilang tinggi, dan layak disebut “suara emas”.
Presiden Soekarno pada saat itu pun menaruh harapan yang tinggi pada penyelenggaraan acara Bintang Radio ini, seperti kutipan pernyataannya berikut ini, “Dalam tingkatan revolusi seperti sekarang ini, para bintang radio, umumnya seniman seniwati radio diperlukan guna membina dan membentuk apresiasi musik jang sehat dan baik. Mereka termasuk seniman jang harus mengembangkan music revolusioner melawan pengaruh asing jang dekaden. Lagu-lagu jang didengungkan haruslah lagu-lagu jang membawa kepribadian kita.”

Pemilihan Bintang Radio dikuti oleh sejumlah peserta yang mewakili 10 kota dari berbagai provinsi di Indonesia, antar lain dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Yogyakarta, Medan, Palembang, Padang, Makassar dan Banjarmasin. Tak kurang dari 16 peserta yang mewakili masing-masing kota telah mengikuti ajang pemilihan bakat tarik suara tersebut sejak pertama kali diadakan.

Namun pada penyelenggaraan kompetisi yang kedua di tahun 1952, hanya diikuti oleh peserta dari perwakilan Bandung dan Medan saja. Meski demikian di tahun berikutnya yaitu tahun1953, kompetisi tersebut dikuti oleh 34 peserta dan selalu mengalami peningkatan di tahun tahun berikutnya. Diantaranya di tahun 1954 diikuti oleh 51 peserta, tahun 1955 diikuti oleh 76, bahkan di tahun 1956 jumlah peserta mencapai 99 orang.
Banyak penyanyi bersuara “emas” yang sudah dihasilkan dari ajang pencarian bakat ini, sebut saja Sam Saimun, Samsidi, Suprapto Pranadjaja, Ping Astono, Bing Slamet, Ade Ticoalu, Rosita, Norma Sanger, Betty, Ratna, Dony Saleh, Tono Mudjiharto, Sunarti Suwandi, Rose Pandanwangi, Waldjinah, Masnun, Rachmansyah dan masih banyak lagi sederet penyanyi bertalenta lainnya.

Tidak sedikit penyanyi dari Acara Bintang Radio yang kemudian melangkah ke dapur rekaman dan menghasilkan album di bawah label ternama saat itu, seperti Irama, Lokananta, Mesra, Remaco, Bali, Indra serta Purnama.
Berhasil meraih prestasi dalam ajang Bintang Radio diyakini mampu membuka peluang untuk meraih kesuksesan dan ketenaran, namun tercatat hanya beberapa saja yang berhasil mendulang kejayaan dalam industri rekaman. Di antaranya adalah Sam Saimun, Bing Slamet, Waldjinah, Ivo Nilakreshna, Norma Sanger, Titiek Puspa, Edie Silitonga, Hetty Koes Endang dan Andi Meriem Matalata.

Perkembangan Acara Bintang radio mengalami kemajuan pesat di awal 1970-an, terlebih ketika kemudian memutuskan untuk bersinergi dengan TVRI, hingga kemudian di tahun 1974 acara tersebut berganti nama menjadi “Bintang Radio dan Televisi”.

Di tahun 1970-an juga tercatat adanya kompetisi yang bertajuk Pop Singer serta Festival Penyanyi Pop Indonesia yang diketahui menghasilkan penyanyi berbakat seperti Broery Marantika, Grace Simon, Hetty Koes Endang, Tina Roy, Deddy Damhudi, Ira Puspita dan sejumlah penyanyi lainnya.

Bukan hanya itu saja, di tahun 1976 ajang kompetisi ini memperluas jangkauan pesertanya dengan menyelenggarakan Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Remaja. Dari ajang inilah lahir nama-nama besar seperti Harvey Malaiholo, Rafika Duri, Sundari Soekotjo, Binu N. Dalp, Lex’s Trio, Pahama, Soraya Togas, dan Nouval Trio. Acara ini pun terus berlanjut hingga tahun 1980-an dan menghasilkan juara seperti Trio Libels, Ricky Johannes, dan masih banyak lagi lainnya.

harvey-bintang-radio

Di era tahun 1990-an hingga tahun 2000-an, sejumlah penyanyi berbakat yang menjuarai ajang Bintang Radio dan Televisi seperti tak terdengar lagi karyanya. Pada akhirnya kompetisi pencarian bakat menyanyi yang sudah ada sejak tahun 1951 telah mengalami pergeseran dan mulai terpinggirkan oleh ajang pencarian bakat serupa yang banyak disuguhkan di berbagai stasiun televisi swasta di tanah air, semisal acara Asia Bagus dan Cipta Pesona Bintang. Acara pencarian bakat pun mengalami perkembangan yang cukup signifikan, terlebih ketika konsep acara dibuat secara kreatif dan variatif sehingga bukan hanya sekedar pencarian bakat semata tetapi dimasukkan juga unsur hiburan yang diminati oleh masyarakat.

Bahkan beberapa ajang kompetisi pencarian bakat juga melibatkan masyarakat secara langsung untuk turut berperan dalam memberikan penilaian terhadap peserta kompetisi dengan cara vote atau SMS, seperti pada kompetisi X Factor hingga The Voice.

Di balik hingar bingar ajang kompetisi pencarian bakat dalam bidang tarik suara di televisi swasta, ternyata pada kenyataannya RRI selaku penggagas acara Bintang Radio ternyata masih tetap konsisten menyelenggarakan acara tersebut. Dan di tahun 2013 final Bintang Radio diselenggarakan di Papua. Adalah Bening Septaria dan Priyo R. yang muncul sebagai juara acara tersebut. Yang sangat disayangkan saat ini, gaung acara Bintang Radio seolah telah terpinggirkan di era yang serba digital hingga tak banyak yang tahu mengenai acara ini.

Sumber: http://reviewmusik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *