Tonny Koeswoyo, Jenius di Balik Nama Besar Koes Plus

Siapa yang tidak mengenal Koes Ploes, grup musik legendaris yang lagu-lagunya tidak lekang oleh zaman.  Ternyata di balik kesesuksan dan nama besarnya di kancah musik tanah air, ada sosok Tonny Koeswoyo yang merupakan pendiri dan pimpinan band legendaris tersebut.

Terlahir dengan nama Koestono Koeswoyo, Tonny Koeswoyo lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 19 Januari 1936 dan meninggal di usia 51 tahun pada tanggal 27 Maret 1987 di Jakarta.  Anak dari pasangan Raden Koewsoyo dan Rr. Atmini yang berasal dari Tuban ini merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.

Awal ketertarikan Tonny Koeswoyo pada musik bermula ketika kakak tertuanya yang bernama John Koewswoyo membelikan alat musik.  Tonny belajar secara otodidak hingga bisa memainkan berbagai macam alat musik.  Tonny belajar not balok dari Nick Manolov dan gaya petikan gitarnya mengikuti Carcasi dan Tjio BunTek, gitaris dari Spanyol.

Tonny kemudian mengajarkan kemampuannya bermain alat musik kepada ketiga adiknya, yaitu Nomo Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo yang menjadi awal mula solidnya band Koes  Bersaudara.

Pada tahun 1960 Tonny mengubah nama band-nya menjadi Koes Brothers karena terpengaruh Everly Brothers.  Dimana pada akhir tahun 1950-an sampai awal tahun 1960-an band-band yang ada di Indonesia memang umumnya lebih bangga jika menyanyikan lagu asing, tidak terkecuali dengan Koes Brothers ini.

Melihat hal itu, Mas Yos menyarankan agar Koes Brother yang saat itu beranggotakan lima orang mengubah namanya menjadi Koes Bersaudara karena dianggap terlalu kebarat-baratan.

Pada tanggal 29 Juni 1965 Koes Bersaudara ditangkap dan dijebloskan ke penjara Glodok.  Penangkapan mereka disertai dengan Surat Penahanan Sementara Nomor 22/023/K/SPPS/1965 yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani oleh L. Aroen SH.

Mereka ditangkap dan ditahan atas tuduhan penyebar musik ngak ngek ngok yang tidak berbudaya Indonesia oleh Bung Karno, dan dianggap berbau Nekolim atau Neo Kolonial dan Imperialis.  Setelah sempat ditahan, akhirnya pada tanggal 29 September 1965 mereka dibebaskan.

Koes bersauadara mengalami pasang surut hingga akhirnya Nomo Koeswoyo dikeluarkan oleh Tonny karena sering tidak ikut latihan yang kemudian diikuti dengan keluarnya Yok Koeswoyo karena alasan simpati.

Posisi Nomo dan Yok yang kosong kemudian digantikan oleh Totok AR dan Murry yang kemudian membentuk grup band baru bernama Free and Peace.  Nama ini tidak bertahan lama, hingga akhirnya nama band pun berganti menjadi Koes Plus, yang rupanya terinspirasi oleh merk obat batuk APC Plus.

Setelah melalui perjalanan musik yang begitu panjang hingga meraih kesuksesan, tidak berlebihan jika Tonny Koeswoyo disebut sebagai jenius di balik nama besar Koes Plus.  Tidak dipungkiri bahwa kelebihan Koes Plus ada pada Tonny Koeswoyo.  Kemampuannya menciptakan lagu dengan konsep “Simple is Beautiful” patut diacungi jempol.

Lagu dan lirik sedehana yang diciptakan oleh Tonny Koeswoyo menghasilkan lagu-lagu easy listening yang justru menjadi daya tarik tersendiri hingga mampu bertahan selama lebih dari lima dekade. 

Meskipun pada waktu itu lagu-lagu Koes Plus sempat mendapatkan penilaian miring dari pengamat musik tanah air, namun ternyata bukti keabadian lagu-lagu mereka masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Melalui tangan dinginnya, ribuan karya Koes Plus menjadi saksi perkembangan musik di tanah air, mulai dari lagu dengen genre pop, dangdut, rock and roll, blues, keroncong, hingga pop Jawa.  Lagu-lagunya yang tak lekang oleh waktu seolah menjadi lagu-lagu abadi yang akan terus dinikmati sepanjang masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *