PERJALANAN SINGKAT SANG PENCIPTA LAGU KEBANGSAAN

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku

Bangsa dan Tanah Airku

Marilah kita berseru

Indonesia bersatu

                Hiduplah tanahku

                Hiduplah negriku

                Bangsaku Rakyatku semuanya

                Bangunlah jiwanya

                Bangunlah badannya

                Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya

Merdeka Merdeka

Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya

Merdeka-merdeka

Hiduplah Indoneisa Raya

            Lirik lagu di atas secara pasti tidak akan asing lagi oleh warga negara Indonesia. Indonesia Raya, lagu Kebangsaan negara Republik Indonesia yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman. Lagu ini pertama kali dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928, tepatnya di Kongres Pemuda Kedua di Kramat 106, Jakarta. Hingga saat ini, tiap tanggal 28 Oktober, Indonesia mengingatnya sebagai Hari Sumpah Pemuda. Saat itu, Soepratman mengumandangkan lagu yang nantinya akan menjadi Lagu Kebangsaan tersebut dibantu dengan alat musik yang telah mahir dimainkan olehnya, yakni biola. Alat gesek itu pun mengantarkannya kepada perjalanan yang cukup panjang.

            Soepratman lahir di Desa Somongari, 9 Maret 1903. Setamat sekolahnya di Budi Utomo, Soepratman hijrah ke kota Makassar di tahun 1914. Soepratman tidak sendiri, ia bersama dengan kakak perempuannya, Roekijem Soepratijah, dan tentu saja Sang Suami yang menjadi Kakak Ipar Soepratman, W.M Van Eldick. Di kota tersebut, Soepratman muda seakan diasuh oleh kakak iparnya yang juga bergelut di dunia musik. Di tahun yang sama, Van Eldick melihat kelihaian adik iparnya ini dalam memainkan karya-karya komponis dunia, seperti Beethoven dan Chopin, maka ia pun memberinya sebuah alat musik gesek, biola.

            Enam tahun kemudian, tepatnya di tahun 1920, Van Eldick mengajak Soepratman untuk bergabung di sebuah band beraliran jazz, yakni Black and White Jazz Band. Band ini memang memulai jadwal mereka di panggung-panggung pesta ulang tahun dan di pernikahan orang-orang penting di kota Makassar. Nama Black and White Jazz Band sendiri diambil karena band ini beranggotakan orang Belanda yang berkulit putih dan orang pribumi yang berkulit sawo matang. Empat tahun berkarya bersama Black and White Jazz Band, hingga akhirnya band ini dapat menggelar konser tunggal mereka di Makassar, serta kerap menciptakan lagu yang mengarah kepada Kemerdekaan  untuk negaranya itu membuat Soepratman juga beralih profesi, yakni menjadi wartawan.

            Soepratman kerap kali mengunjungi Ibu Kota ke Kongres-kongres Nasional sebagai wartawan. Singkat kata setelah ia mengunmandangkan lagu ciptaannya di tahun 1928, ia pun diburu oleh tentara Jepang karena mengobarkan semangat pembebasan dalam lagu tersebut.  Selama tujuh tahun, 1930-137, ia pun harus berpindah-pindah tempat guna menghindari dari buruan para tentara. Di tahun 1937, Soepratman jatuh sakit, dan dibawa ke Surabaya.  Walau sakit, Soepratman masih dapat memimpin pandu—pandu KBI di Surabaya, hingga akhirnya ia pun tertangkap dan dikurung di penjara Kalisosok. 10 hari kemudian, Soepratman meninggal dunia. Ia tidak meninggalkan anak maupun istri.

            Lewak musik, Soepratman bergerak melawan penjajahan atas negaranya. Di  masa mudanya ia bergabung di sebuah band beraliran jazz, yang saat ini sangat digemari anak muda, ternyata sudah masuk ke Indonesia, di tahun 1900-an. Karya Soepratman akan selalu mengalir di Negara Republik Indonesia ini. Cinta dan konsistensinya terhadap musik dapat dijadikan contoh untuk para musisi, bukan hanya nasional tetapi internasional. Karena  dengan musik, Soepratman berjuang. (RS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *