Kisah Tentang “Cidro” Single Hits dari Didi Kempot

https://www.youtube.com/watch?v=lAp75uBXQas

Belum lama ini dunia musik tanah air dikejutkan dengan berita berpulangnya Didi Kempot, yang dikenal sebagai legenda musik campur sari.  The God Father of Broken Heart ini wafat dalam usia 53 tahun setelah sempat mendapatkan perawatan di RS. Kasih Ibu Solo, pada hari Selasa pagi 5 Mei 2020.  Kepergiannya yang tiba-tiba membuat masyarakat Indonesia kembali berduka dengan rasa kehilangan yang begitu mendalam.

Sosok Didi Kempot sebagai maestro musik campur sari memang sangat membekas di hati para penggemarnya yang berasal dari berbagai kalangan hingga lintas generasi.  Kemunculannya di dunia musik sendiri sudah dimulai sejak tahun 1984 sebagai musisi jalanan di Kota kelahirannya, Surakarta. 

Pada tahun 1987, Didi Kempot mencoba peruntungannya di Jakarta dan mengamen bersama teman-temannya yang tergabung dalam kelompok Pengamen Trotoar (Kempot) yang kemudian dikenal sebagai nama panggungnya.  Pada tahun 1989, Didi Kempot merilis album pertama dengan salah satu single hits berjudul “Cidro” sebagai andalannya. 

Dari penuturan sesama musisi Solo, Wawan Iswanto, sebelum meraih kesuksesannya seperti saat ini, Didi Kempot pernah meluncurkan single berjudul “Ginah” dan “Modal Dengkul” namun sayangnya kedua lagu tersebut tidak laku.  Pada tahun 1989, Didi Kempot merilis album pertama dengan salah satu single hits berjudul “Cidro” sebagai andalannya. 

Lagu ini merupakan kisah cinta Didi Kempot yang gagal karena tidak adanya restu dari orang tua sang kekasih.  Kisah dalam lagu ini begitu menyentuh sehingga membuat para pendengarnya ikut terbawa perasaan.  Ada beberapa fakta menarik lainnya di balik lagu Cidro. Diantaranya adalah waktu pembuatan lagu yang terbilang sangat cepat, dimana Didi Kempot hanya butuh waktu sekitar 1 jam saja untuk menulis lirik dan nadanya. Lagu ini dirilis pertama kali tahun 1989 di album We Cen Yu (singkatan dari KoWe PanCen aYu) yang diproduksi oleh Musica Studio. Saat itu, Didi Kempot masih tergabung dalam Batara Group bersama saudaranya. Setelah lagu “Cidro”, Didi Kempot mulai sering menulis lagu dengan tema kesedihan dan patah hati yang rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya.

Beberapa album karya Didi Kempot pun cukup fenomenal, diantaranya adalah Layang Kangen (Belanda, 1996), Stasiun Balapan (1995), Album Plong (2000), Album Ketaman Asmara (2001), Album Cucak Rowo (2003), Album Ono Opo (2005), Kalung Emas (2013), dan Suket Teki (2016).  Lagu lainnya yang tak kalah hits adalah Sewu Kutho, Banyu Langit, hingga Pamer Bojo yang memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *