Satu lagi gitaris canggih dari Jepang
Jepang merupakan salah satu negara penghasil shredder yang produktif, dan salah satunya adalah gitaris muda bernama Takayoshi Ohmura, yang lahir pada tahun 1983 di Osaka, Jepang.
“Power Of Reality” sendiri merupakan album ketiga Takayoshi, dan merupakan album instrumental.
Track pertama, “Pleasant Surprise” diawali dengan dentingan piano lembut ala X Japan, dilanjutkan dengan sayatan memelas melodi gitar Takayoshi, menit berikutnya adalah pameran kedahsyatan shred yang mengagumkan, meniti nada-nada dengan kecepatan bak kereta api express yang pasti akan memanjakan pecinta shredder.
Apakah Takayoshi merupakan satu lagi tiruan dari Yngwie J. Malmsteen? Mungkin itulah yang terpikir oleh Anda, tetapi tetaplah mendengar “Pleasant Surprise” saat menginjak menit 02:28, saat Takayoshi mulai mengeluarkan jurus terindahnya - sepenggal komposisi indah sekaligus rumit dengan chicken picking khas Chris Impelliteri - menjadikan track ini sebagai salah satu track yang tidak akan mudah dilupakan, sebagai sebuah masterpiece permainan gitar yang memamerkan akurasi, kecepatan, dan komposisi nada indah dari salah satu gitaris kelas dunia.
Track selanjutnya, “Dream Pillow” lebih menonjolkan permainan akustik Takayoshi, sekedar informasi, Takayoshi terlebih dahulu memainkan gitar akustik sejak berusia 11 tahun, dan baru memainkan gitar elektrik pada usia 14 tahun. Tetapi tidak banyak “hikmah” yang bisa diambil dari track “Dream Pillow”.
Track ketiga, “In A Rough State” nampaknya mengeluarkan sisi sentimentil dari Takayoshi, sekaligus mengukuhkan bahwa shredder juga punya “soul” dalam bergitar.
“Material Tone (My...One Hour)” menampilkan nuansa blues yang kental ala Gary Moore, nampaknya Takayoshi tidak ingin terpaku hanya dengan satu gaya. Sementara track terakhir “The Cataclysm” kembali bertempo cepat, kali ini Takayoshi memainkan nada-nada cepat dengan gaya fushion.
Secara keseluruhan, album “Power Of Reality” merupakan album dengan kualitas tinggi, Takayoshi juga merupakan gitaris yang memiliki semuanya, kecuali satu hal, yaitu ciri khas.
Tentunya seorang gitaris tidak selalu perlu memiliki ciri khas yang sedemikian kental seperti Steve Vai, Yngwie Malmsteen, Joe Satriani, dan sederet nama besar lainnya.
Tetapi sebuah identitas tetap diperlukan, mungkin hal ini salah satu penyebab mengapa walaupun banyak gitaris Jepang yang berbakat, tetapi nama Akira Takasaki (Loudness) tetap tidak tergeser sebagai gitaris papan atas Jepang.
Tentunya di karir Takayoshi yang masih panjang, kita masih akan mendengar lebih banyak lagi karya-karya spektakulernya.
|